Selasa, 25 Maret 2014

Batuan Beku


PENDAHULUAN

Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain.
Petrologi adalah ilmu yang mempelajari batuan pembentuk kulit bumi, yang mencakup mengenai cara terjadinya, komposisi batuan, klasifikasi batuan, dan sejarah geologinya. Batuan merupakan bahan pembentuk kerak bumi, sehingga mengenal macam-macam dan sifat batuan adalah sangat penting.

Definisi Batuan
Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun utama kerak bumi serta terbentuk sebagai hasil proses alam.
Batuan adalah materi yang terbentuk secara alamiah, telah terkonsolidasikan, terdiri dari satu jenis mineral (monominerallic) atau lebih dan umumnya terdiri dari agregat/kumpulan dari beberapa mineral yang berbeda (Plummer, dkk, 2001).
Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli geologi terhadap batuan, menyimpulkan bahwa antara ketiga kelompok batuan tersebut terdapat hubungan yang erat satu dengan yang lainnya dan batuan beku dianggap sebagai “nenek moyang” dari batuan lainnya. Dari sejarah pembentukan Bumi, diperoleh gambaran bahwa pada awalnya seluruh bagian luar dari Bumi ini terdiri dari batuan beku. Dengan perjalanan waktu serta perubahan keadaan, maka terjadilah perubahan-perubahan yang disertai dengan pembentukan kelompok-kelompok batuan lainnya. Proses pembentukan dari satu kelompok batuan ke kelompok batuan lainnya, merupakan suatu siklus yang dinamakan daur batuan atau jentera batuan seperti ditunjukkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Siklus (jentera) batuan

Berdasarkan daur batuan di atas, terlihat bahwa batuan beku terbentuk sebagai akibat dari pendinginan dan pembekuan magma. Pendinginan magma yang berupa lelehan silikat, akan diikuti oleh proses penghabluran yang dapat berlangsung di bawah atau di atas permukaan bumi melalui erupsi gunung berapi. Kelompok batuan beku tersebut apabila kemudian tersingkap dipermukaan akibat bekerjanya tenaga endogen, maka ia akan bersentuhan dengan atmosfer dan hidrosfer yang menyebabkan berlangsungnya proses pelapukan. Melalui proses eksogen ini, batuan akan mengalami penghancuran. Selanjutnya batuan yang telah dihancurkan ini, dipindahkan/digerakkan dari tempatnya terkumpul oleh gayaberat, air yang mengalir di atas dan di bawah permukaan, angin yang bertiup, gelombang di pantai, dan gletser di pegunungan-pegunungan yang tinggi, kemudian diendapkan di tempat-tempat tertentu sebagai sedimen. Media pengangkut tersebut disebut juga sebagai alat pengikis, yang dalam bekerjanya berupaya untuk meratakan permukaan bumi.
Proses berikut adalah ubahan dari sedimen yang bersifat lepas, menjadi batuan yang keras, melalui pembebanan dan perekatan oleh senyawa mineral dalam larutan, dan kemudian disebut batuan sedimen. Apabila terhadap batuan sedimen ini terjadi peningkatan tekanan dan suhu sebagai akibat dari penimbunan dan atau terlibat dalam proses pembentukan pegunungan, maka batuan sedimen tersebut akan mengalami ubahan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, dan terbentuk batuan malihan atau batuan metamorfis.
Apabila batuan metamorfis ini masih mengalami peningkatan tekanan dan suhu, maka ia akan kembali leleh, dan berubah menjadi magma. Panah-panah pada gambar di atas menunjukkan bahwa jalannya siklus dapat terganggu dengan adanya jalan-jalan pintas yang dapat ditempuh seperti dari batuan beku menjadi batuan metamorfis, atau batuan metamorfis menjadi sedimen tanpa melalui pembentukan magma dan batuan beku. Batuan sedimen dilain pihak dapat kembali menjadi sedimen akibat tersingkap di permukaan bumi dan mengalami proses pelapukan.



BATUAN BEKU

Definisi Batuan Beku
1.      Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).
2.      Batuan beku (igneous rocks), adalah kumpulan mineral silikat (yang interlocking) sebagai hasil pembekuan magma yang mendingin (Huang, 1962).
3.      Batuan beku adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan dari magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi, bersuhu tinggi (800 – 1400°C) serta mempunyai kekentalan tinggi, bersifat mudah bergerak dan cenderung menuju ke permukaan bumi.
Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi

Mineral Pembentuk Batuan Beku
    Mineral pembentuk batuan beku hampir selalu mengandung unsur Silisium (Si) sehingga sering disebut bahan silikat alam. Mineral tersebut ada yang tidak berbentuk (amorf) dan ada yang berbentuk kristal. Berdasarkan warna dan komposisi kimia maka mineral/ kristal pembentuk batuan beku secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1.        Mineral-mineral felsik, banyak mengandung unsur Aluminium (Al) kalsium (Ca) natrium (Sodium, Na) Kalium (potassaium, K) Dan Silisium (Si) umumnya berwarna cerah. Mineral tersebut antara lain kuarsa, plagioklas, orthoklas, muskovit.
         
Gambar2. Contoh batuan beku yang disusun oleh mineral-mineral felsik

2.        Mineral-mineral mafik mengandung banyak unsur magnesium (Mg), Besi (Fe) umumnya mineral-mineral ini berwarna gelap, misalnya Olivin, Piroksin, Hornblende, Biotit.
Gambar 3. Contoh batuan beku yang disusun oleh mineral-mineral mafik

    Banyaknya unsur logam berat seperti halnya Mg dan Fe tersebut menyebabkan mineral menjadi berwarna gelap. Sebaliknya mineral terang lebih dominan tersusun oleh logam ringan, seperti halnya Al, Ca, Na dan L.-K sehingga warnanya menjadi lebih terang.
Sesuai dengan reaksi Bowen (Tabel 1), mineral gelap terdiri dari olivin, piroksen, amfibol dan mika. Secara optik dan kimia piroksen dibagi menjadi piroksen tegak (piroksen orto) dan piroksen miring (piroksen klino). Sementara itu mika terdiri dari biotit (mika hitam) dan muskovit (mika putih). Mineral terang pada prinsipnya terdiri dari felspar, felspatoid dan kuarsa. Felspar dibagi lagi menjadi plagioklas dan alkali felspar. Secara mikroskopis dan kimiawi plagioklas dibagi lagi menjadi anortit, bitownit, labradorit, andesin, oligoklas dan albit.


Tabel 1. Reaksi seri Bowen (1928) dari mineral-mineral utama Pembentuk Batuan Beku

Sebelah kiri mewakili mineral-mineral hitam (mafic minerals) yang terbentuk pertama kali dalam temperatur sangat tinggi adalah: olivin, kemudian disusun oleh piroksen, amfibol, biotit.
Sebelah kanan mewakili mineral-mineral terang (felsic minerals) seperti plagioklas, di mana mineral kelompok ini tersebar luas mulai batuan beku asam sampai basa. Sedangkan mineral yang terbentuk paling akhir adalah kuarsa. Mineral yang terbentuk pertama kali adalah mineral yang sangat tidak stabil, sedangkan mineral yang terbentuk paling akhir adalah mineral yang paling stabil.
Secara sederhana Deret Bowen memperlihatkan bahwa dalam proses pendinginan magma, mineral-mineral yang mempunyai temperatur peleburan paling tinggi akan mengkristal lebih awal daripada mineral-mineral yang mempunyai titik lebur yang lebih rendah. Kristalisasi berawal sepanjang dua lintasan  atau cabang yang disebut sebagai : Lintasan yang tidak menerus atau Discontinuous, dan Menerus atau Continuous, yang dapat dijelaskan bahwa keduanya secara efektif berdiri sendiri satu sama lain, kecuali pada temperatur yang rendah.



Deskripsi Batuan Beku
Jenis Batuan Beku
Jenis batuan didasarkan pada pembagian batuan beku secara genetik, yaitu terdiri daribatuan beku dalam dan batuan beku luar.Batuan beku dalam adalah batuan beku yang terbentuk di dalam atau di bawah bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun) dan memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya,tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya.sering disebut batuan beku intrusi. Batuan Beku Luar adalah batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi,akibatkeluarnya magma  melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, batuan beku ini sering disebut batuan beku ekstrusi.

1.      Warna Batuan
Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
a.    Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang  tersusun atas mineral-mineral felsik,misalnya kuarsa, potasium feldsfar dan muskovit.
b.    Batuan beku yang berwarna cerah sampai gelapatau abu-abu umumnya batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak.
c.    Batuan beku yang berwarna gelap umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.
d.   Batuan beku yang berwarna hijau kelam dan biasanya monomineralik, disebut dengan batuan beku ultra basa dengan komposisi hampir seluruhnya mafik.

2.       Struktur Batuan
Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang berbeda.Pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan dilapangan.pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:
                      a.         Massif: bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas atau apabila pada batuan tidak menunjukan fragmen batuan lain yang tertanam ditubuhnya.


 









Gambar 4. Contoh struktur massif

                     b.         Pillo Lava: disebut juga lava bantalmerupakan struktur yang dinyatakan pada batuan intrusi tertentu, yang dicirikan oleh massa yang berbentuk bantal dimana ukuran dari bentuk ini berdiameter 30-60 cm dan jaraknya berdekatan. Strutur ini khas pada batuan volkanik bawah laut.
             Gambar 5. Contoh struktur pillo lava

                      c.         Jointing: bila batuan tampak seperti mempunyai retakan-retakan.kenapakan ini akan mudah diamati pada singkapan di lapangan.
          
Gambar 6. Contoh struktur jointing (columnar joint) di daerah Nunbaun, TTU, NTT.

                     d.         Vesikular: dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas, sturktur ini dibagi lagi menjadi 4 yaitu:
1.      Skorian:  bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.
Gambar 7. Contoh struktur skorian

2.      Pumisan: bila lubang-lubang gas saling berhubungan.
        Gambar 8. Contoh struktur pumisan


3.      Aliran: bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal maupun lubang gas.
4.      Amigdaloidal: bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder seperti zeolit, karbonat dan bermacam silika.
     Gambar 9. Contoh struktur amigdaloidal

                      e.         Xenolith: struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertahan kedalam batuan beku. Struktur ini terbentuk akibat adanya pelebaran tidak sempurna dari suatu batuan samping didalam magma yang menerobos.
IMG_5847.JPG
Gambar 10. Contoh struktur xenolith

                      f.         Autobreccia: struktur pada lava yang memperlihatkan fragmen-fragmen dari lava itu sendiri.

Gambar 11. Contoh struktur autobreccia

3.       Tekstur Batuan
Pengertian tekstur batuan mengacu pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric).Jika warna batuan berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur berhubungan dengan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil dari rangkaian proses sebelumdan sesudah kristalisasi. Pengamatan tekstur meliputi :
a.    Tingkat atau derajat kristalisasi
Tingkat atau derajat kristalisasi suatu mineral dalam batuan beku, terdiri atas 3 yaitu :
1.    Holokristalin
Tekstur batuan beku yang kenampakan batuannya terdiri dari keseluruhan mineral yang membentuk kristal, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi berlangsung begitu lama sehingga memungkinkan terbentuknya mineral-mineral dengan bentuk kristal yang relatif sempurna.
2.    Hipokristalin
Tekstur batuan yang yang kenampakannya terdiri dari sebagaian mineral membentuk kristal dan sebagiannya membentuk gelas, hal ini menunjukkan proses kristalisasi berlangsung relatif lama namun masih memingkinkan terbentuknya mineral dengan bentuk kristal yang kurang.
3.    Holohyalin
Tekstur batuan yang kenampakannya terdiri dari mineral yang keseluruhannya berbentuk gelas, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi magma berlangsung relatif singkat sehingga tidak memungkinkan pembentukan mineral-mineral dengan bentuk yang sempurna.
b.      Granularitas
Granularitas merupakan ukuran butir mineral adalah sifat tekstural yang paling mudah dikenali.ukuran kristal dapat menunjukan tingkat kristalisasi pada batuan.Granularitas atau ukuran Kristal dalam masa batuan beku dibagi menjadi 2,yaitu:
1.    Fanerik            :apabila di dalam batuan tersebut dapat terlihat mineral penyusunnya, meliputi bentuk kristal, ukuran butir dan huungan antar butir. Singkatnya, batuan beku mempunyai tekstur fanerik apabila mineral penyusunnya, baik berupa kristal maupun gelasatau kaca dapat diamati.
Gambar 12. Tekstur fanerik pada batuan granite

2.    Afanitik: kenampakan butir individual mineral didalam batuan beku sangat halus halus sehingga mineral penyusunnya tidak dapat diamati secara mata telanjang atau dengan loupe.
Gambar 13. Tekstur afanitik pada batuan basalt


Tabel 2. Kisaran ukuran mineral dari beberapa sumber
Ukuran Butir
Cox, Price, Harte
W.T.G
Heinric
Halus
< 1mm
<1 mm
<1 mm
Sedang
1-5 mm
1-5 mm
1- 10mm
Kasar
>5mm
5-30 mm
10-30 mm
Sangat kasar

>30 mm
> 30 mm

Jika batuan beku mempunyai tekstur afanitik maka pemerian tekstur lebih rinci tidak dapat diketahui, sehingga harus dihentikan. Sebaliknya apabila batuan beku tersebut bertekstur fanerik maka pemeriantekstur lebih lanjut dapat diteruskan.



c.       Kemas
Kemas meliputi bentuk butir dan suasana hubungan mineral di dalam suatu batuan beku.

1.    Bentuk Butir
a.    Euhedral, bentuk kristal dari butiran mineral mempunyai bidang kristal yang sempurna.
b.    Subhedral, bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
c.    Anhedral, berbentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh bidang kristal yang tidak sempurna.
Gambar 14.Bentuk butir euhedral, subhedral, anhedral

2.    Hubungan Antar Butir
Pada batuan beku non fragmental tingkat granularitas dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
a.       Granular atau Equigranular
Disebut equigranular apabila memiliki ukuran mineral yang seragam. Tekstur ini dibagi menjadi tiga:
Gambar 15.Bentuk hubungan antar butir granular

1.      Panidiomorfik Granular, apabila sebagian besar mineral di dalam batuan beku tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentuk euhedral.
2.      Hipidiomorfik Granular, apabila sebagian besar mineral di dalam batuan beku tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentuk subhedral.
3.      Alotriomorfik Granular, apabila sebagian besar mineral di dalam batuan beku tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentuk anhedral.
b.      Inequigranular
Disebut inequigranular apabila ukuran kristal tidak seragam. Tekstur ini dapat dibagi lagi menjadi dua:
1.      Faneroporfiritik, bila kristal mineral yang besar (Fenokris) dikelilingi kristal mineral yang lebih kecil (massa dasar) dan dapat dikenali dengan mata telanjang. Contoh: Diorit Porfiri.
Text Box: Fenokris
Gambar16.Sketsa faneroporfiritik

2.      Porfiroafanitik, bila Fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik. Contoh: Andesit Porfiri.
Text Box: FenokrisText Box: Afanitik
Gambar 17.Sketsa porfiriafanitik

Didalambatuan beku bertekstur holokristalin inequigranular dan hipokristalin terdapat kristal berukuran butir besar, disebut fenokris, dikelilingi oleh kristal mineral yang lebih kecil (massa dasar/groundmass). Kenampakan demikian disebut tekstur porfir atau porfiri atau firik. Tekstur holokristalin porfiritik adalah apabila di dalam batuan beku itu terdapat kristal besar (fenokris) yang tertanam di dalam massa dasar kristal yang lebih halus. Tekstur hipokristalin porfiritik diperuntukan bagi batuan beku yang mempunyai fenokris tertanam di dalam massa dasar gelas. Tekstur vitrofirik adalah tekstur di mana mineral penyusunnya secara dominan adalah gelas, sedangkan kristalnya hanya sedikit (<10%).
c.       Gelasan (Glassy)
Batuan beku dikatakan memiliki tekstur gelasan apabila semuanya tersusun atas gelas.

d.      Tekstur Khusus
Tekstur khusus adalah tekstur yang menunjukan pertumbuhan bersama mineral-mineral yang berbeda.Tekstur ini sangat sulit diamati secara megaskopis. Tekstur khusus terdiri dari :
1.      Tekstur diabasik, tekstur yang menunjukkan pertumbuhan bersama antara plagioklas dan piroksen, piroksen tidak terlihat dengan jelas, piroklas radier terhadap piroksen.
Gambar 18. Menunjukkan contoh tekstur diabasik

2.      Tekstur trakhitik, tekstur yang menunjukkan ruang antara mineral-mineral plagioklas diisi oleh mineral piroksen, olivine atau bijih besi,





Tabel 3. Klasifikasi batuan beku berdasarkan tekstur dan komposisi
Teksturr
 
Komposisi
i
 
Asam
(Felsik)
Intermediet
(Felsik=Mafik)
Basa
(Mafik)
Ultrabasa
(Ultra Mafik)
Fanerik
Granit
Diorite
Gabro
Dunite
Afanitik
Rhyolit
Andesite
Basalt
-
Glassy
Obsidian
Basalt Glass
-
Vesikuler
Pumisan
Scoria
-

e.       Komposisi Mineral
Berdasarkan mineral penyusunnya batuan beku dapat  dibedakan menjadi 4 yaitu:
1.    Kelompok Granit – Riolit
       Berasal dari magma yang bersifat asam, terutama tersusun oleh mineral-mineral kuarsa ortoklas, plaglioklas Na, kadang terdapat  hornblende, biotit, muskovit dalam jumlah yang kecil.
2.    Kelompok Diorit – Andesit
       Berasal dari magma yang bersifat intermediet,terutama tersusun atas mineral-mineral plaglioklas, Hornblende, piroksen dan kuarsa biotit,orthoklas dalam jumlah kecil
3.    Kelompok Gabro – Basalt
       Tersusun dari magma yang bersifat basa dan terdiri dari mineral-mineral olivine,plaglioklas Ca, piroksen dan hornblende.
4.    Kelompok Ultra Basa
       Tersusun oleh olivin dan piroksen.Mineral lain yang mungkin adalah plaglioklas Ca dalam jumlah kecil.

Identifikasi Mineral
Minerals adalah bahan atau senyawa anorganik yang terbentuk secara alamiah, padat, mempunyai komposisi, dan mempunyai sturuktur dalam/kristal tertentu. Sedangkan bedanya dengan mineraloid ialah tidak mempunyai struktur dalam/kristal tertentu (amorf). Menurut W.T. Huang (1962), komposisi mineral pembentuk batuan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok mineral, yaitu :


1.      Mineral Utama (Essensial Minerals)
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan.Mineral utama dapat dilihat dari deret bowen series(1928).Deret Bowen menggambarkan secara umum urutan kristalisasi suatu mineral sesuai dengan penurunan suhu dan perbedaan kandungan magma, dengan asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa.Berdasarkan warna batuan, mineral-mineral ini dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :
a.         Mineral Felsik (mineral yang berwarna terang)
Contohnya :
1.        Kelompok Plagioklas (Anortit, Bitownit, Labradorit, Andesin, Oligoklas, Albit).
2.        Kelompok Alkali Feldspar (Ortoklas, Mikroklin, Anortoklas, Sanidin).
3.        Kelompok Feldspatoid (Leusit, Nefelin, Sodalit).
4.        Kuarsa.
5.        Muskovit.
b.         Mineral Mafik (mineral yang berwarna gelap)
Contohnya :
1.        Olivin (Forsterite dan Fayalite)
2.        Piroksen,
Dibagi menjadi 2 (dua), yaitu Orto Piroksen dan Klino Piroksen. Yang termasuk ke dalam Orto Piroksen antara lain: Enstatite, Hypersten. Yang termasuk ke dalam Klino Piroksen antara lain: Diopsit, Augit, Pigeonit, Aigirin, Spodemen, Jadeit.
3.        Amfibol (Hornblende, Lamprobolit, Riebeckit, Glukofan).
4.        Biotit.
Kelompok plagioklas dan kelompok alkali feldspar sering disebut kelompok feldspar. catatan : Tidak semua mineral felsik berwarna terang tetapi ada mineral felsik yang berwarna gelap yaitu, obsidian. Mineral yang berwarna terang disebabkan banyaknya kandungan SiO2 dan jarang mengandung Fe dan Mg.

2.      Mineral Tambahan (Accessory Minerals)
Mineral tambahan adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit (kurang dari 5 %). Kehadirannya tidak menentukan nama batuan. Contoh dari mineral tambahan ini antara lain: Zirkon, Rutil, Magnesit, Apatit, Hematit, Garnet, Kromit, Pyrit, Sphen dan Zeolit.

3.      Mineral Sekunder (Secondary Minerals)
Mineral sekunder adalah mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, reaksi hidrothermal maupun hasil metamorfisme terhadap mineral utama. Contoh dari mineral sekunder antara lain :Serpentin, Kalsit, Serisit, Kalkopirit, Kaolin, Klorit, Pirit.

4.      Gelas atau Kaca
Gelas adalah mineral primer yang tidak membentuk kristal atau amorf. Mineral ini sebagai hasil pembekuan magma yang sangat cepat dan hanya terjadi pada batuan beku luar atau batuan gunung api, sehingga sering disebut kaca gunung api (volcanic glass).

Dalam praktikum petrologi, pengamatan dan deskripsi mineral dilakukan hanya menggunakan mata telanjang atau dengan bantuan loupe (kaca pembesar) terhadap contoh setangan (hand speciement), oleh karena itu deskripsi yang dihasilkan terbatas pada pengamatan megaskopis dan tidak semua kelompok mineral tersebut diatas dapat dideskripsi secara megaskopis. Contoh: akan sulit sekali untuk membedakan mineral antara anortit dengan bitownit secara megaskopis.
Pengamatan dan daya ingat yang kuat dalam mengidintifkasi sifat khas dari mineral mutlak diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimum.Tabel 4 berikut disajikan beberapa contoh ciri-ciri mineral berdasarkan sifat fisik mineral yang dapat dikenali secara megaskopis.

Tabel 4. Pengenalan mineral dan sifatnya

Nama Mineral
Warna
Bentuk dan Perawakan mineral
Belahan
Keterangan/Sifat Khusus
Olivin
Hijau
Tidak teratur, membutir, massif
Tidak sempurna
Kilap kaca
Piroksen

Hijau tua

Prismatik pendek
2 arah saling
tegak lurus
Kilap kaca,
permukaan halus
Amfibol
(Hornblende)
Hitam, coklat

Prismatik panjang, menyerat, membutir
2 arah,
membentuk sudut
Kilap arang

Biotit

Hitam, coklat
Tabular, berlembar (memika)
2 arah

Kilap kaca

Alkali feldspar
Merah jambu,
Putih
Prismatik/tabular panjang, masif, membutir
2 arah

Kilap kaca/ lemak

Plagioklas

Putih susu,
abu – abu
Prismatik/tabular panjang, masif, membutir
3 arah

Kilap kaca/ lemak

Muskovit


Putih, transparan

Tabular, berlembar (memika)
1 arah

Kilap kaca/ mutiara, sering terdapat dalam granit pegmatite
Kuarsa

Tidak berwarna, putih abu
Tidak teratur, masif, membutir
Tidak ada
Kilap kaca/ lemak

Kalsit
Tidak berwarna, putih
Rhombohedral, masif, membutir
Sempurna
Membuih bila ditetesi HCl, kilap kaca
Klorit
Hijau
Berlembar (memika)
Sempurna
Umum pada batuan metamorf
Serisit
Tidak berwarna, putih
Tabular, berlembar
Sempurna
Kilap kaca
Asbes
Putih
Masa fibre asbestos, menyerat
-
Terutama tersusun atas antopilit
Garnet
Coklat merah
Poligonal, membutir
Tidak ada
Kilap kaca/ mutiara
Halite
Tak berwarna, putih, merah
Kubus, masif, membutir
Sempurna

Sebagai garam evaporit
Gypsum
Tak berwarna, putih
Memapan, membutir, menyerat
Sempurna

Lembar-lembar tipis terjadi dari evaporit
Anhidrit

Putih, abu-abu, biru pucat
Masif, membutir
Sempurna
Karena evaporit (umumnya)
Pembagian dan Penamaan Batuan Beku
Penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkadung, dan berdasarkan susunan mineraloginya.
1.      Pembagian Berdasarkan Tempat Kejadiannya
Batuan beku terdiri atas kristal-kristal mineral dan kadang-kadang mengandung gelas, berdasarkan tempat kejadiannya (genesa) batuan beku terbagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a.         Batuan beku dalam (plutonik), terbentuk jauh di bawah permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat sehingga batuan seluruhnya  terdiri atas kristal-kristal (struktur holohyalin).
Contoh :Granit, Granodiorit, dan Gabro.
Gambar 19. Foto contoh setangan Gabro

Tiga prinsip tipe batuan intrusi batuan beku berdasarkan bentuk dasar geometri yaitu:
1)      Bentuk yang tidak beraturan, umumnya berbentuk diskordan dan biasanya memiliki bentuk yang jelas dipermukaan bumi, contohnya: batholite dan stock
2)      Bentuk tabular, mempunyai dua bentuk berbeda, yaitu yang mempunyai bentuk diskordan disebut korok/dyke (retas) dan yang berbentuk konkordan diantaranya adalah sill dan Lacolith
3)      Relatif memiliki tubuh yang kecil yakni hanya pluton-pluton yang kecil. Bentuknya khas dari intrusi ini adalah : intrusi silinder atau pipa. Sebagian besar merupakan sisa dari korok atau gunung api tua, biasanya disebut vulkanik nek (teras gunung api)
Gambar berikut memberikan gambaran mengenai berbagai jenis intrusi seperti yang telah dijelaskan tersebut diatas.

Gambar 20. Berbagai jenis intrusi

b.    Batuan Beku luar (volkanik) adalah batuan beku yang terbentuk dipermukaan bumi; sering disebut batuan beku ekstrusi/batuan volkanik. Batuan vulkanik terbentuk dari pembekuan magma yang mendingin secara cepat sehingga pengkristalan berjalan sangat cepat dan akan menghasilkan batuan berbutir halus.
Contohnya yaitu Obsidian, Riolite, Pumice.
Gambar 21. Foto contoh setangan Obsidian

c.    Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-celah atau pipa gunung api. Proses pendinginannya berlangsung relatif cepat sehingga batuannya terdiri atas kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasar sehingga membentuk struktur porfiritik. Contoh batuan ini dalah Granit porfiri dan Diorit porfiri.
Gambar 22. Foto contoh setangan Granit Porfiri

2.        Pembagian Berdasarkan Komposisi Kimia
Dasar pembagian ini biasanya berdasarkan kandungan oksidasi SiO2 (Silika), dimana batuan digolongkan menjadi empat golongan, seperti tabel berikut :






Tabel 5. Penamaan Batuan Berdasarkan Kandungan Silika (SiO2)
No
Nama Batuan
Kandungan Silika (SiO2)
Contoh Batuan Intrusi
Contoh Batuan Ekstrusi
1.
Batuan Beku Asam
> 66%
Granit
Rhyolit
2.
Batuan Beku Intermediat
52% – 66%
Diorite
Andesit
3.
Batuan Beku Basa
45% - 52%
Gabro
Basalt
4.
Batuan Beku Ultra Basa
< 45%
Peridotit dan Dunit
_
           
Dari segi warna, batuan yang komposisinya semakin basa akan lebih gelap dibanding yang komposisinya asam.

3.      Pembagian Berdasarkan Susunan Mineralogi
Salah satu kelemahan dari pembagian secara kimia adalah analisa yang sulit dan memakan waktu lama. Karena itu sebagian besar klasifikasi batuan beku menggunakan dasar komposisi mineral pembentuknya. Sebenarnya analisa kimia dan mineralogi berhubungan erat, seperti yang ditunjukkan pada daftar nilai kesetaraan SiO2 dalam mineral berikut ini :
a.         Mineral Felsik : kuarsa 100%, alkali feldspar 64% - 66%, oligiklas 62%, andesine 59% - 60%, labradorite 52% - 53%.
b.         Mineral Mafik : hornblende 42% - 50%, biotit 35% - 38%, augit 47% - 51%, magnesian dandiopsit piroksen 50% - 55%, dan lain-lain.
Dengan melihat komposisi mineral dan teksturnya, dapat diketahui jenis magma asal, tempat pembentukan, pendugaan temperatur pembentukan dan lainnya.
Klasifikasi yang didasarkan atas mineralogi dan tekstur akan dapat mencerminkan sejarah pembentukan battuan dari pada atas dasar kimia. Tekstur batuan beku menggambarkan keadaan yang mempengaruhi pembentukan batuan itu sendiri. Seperti tekstur granular member arti akan keadaan yang serba sama, sedangkan tekstur porfiritik memberikan arti bahwa terjadi dua generasi pembentukan mineral. Dan tekstur afanitik menggambarkan pembekuan yang cepat.
Seperti yang kita ketahui, batuan beku berbeda-beda pada tekstur dan pada kedalaman saat pembekuan. Dari keterangan tersebut, Fenton mengklasifikasikan batuan beku menjadi empat kelompok menurut tekstur dan tempat pembentukannya:
a.       Kelompok batuan beku berbutir kasar didominasi oleh batuan-batuan yang pembekuannya jauh di dalam tanah, pada kelompok ini kristal-kristalnya dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop. Contohnya adalah batu granit dan diorite.
b.      Kelompok batuan  berbutir halus memadat di permukaan atau sangat dekat dengan permukaan, pada kelompok ini kristal-kristal pada batuan tidak dapat terlihat tanpa bantuan mikroskop. Contoh batuan berbutir halus adalah rhiolit dan basal.
c.       Kelompok batuan seperti kaca atau hampir tidak berbutir, pada umumnya mengeras pada permukaan aliran lava. Batuan ini terjadi karena lava mendingin dengan sangat cepat sehingga mineral-mineral tidak dapat mengkristal. Hal ini mungkin terjadi saat magma atau lava bersentuhan dengan material yang lebih dingin pada permukaan bumi. Contoh batuan yang seperti kaca adalah obsidian dan batu apung.
d.      Kelompok batuan fragmental, adalah batuan yang terlempar keluar oleh letusan yang keras. Kebanyakan batuan ini mengandung pecahan-pecahan seperti kaca. Batuan fragmental terdiri dari banyak butiran atau pecahan yang telah disatukan oleh panas dari letusan gunung berapi. Contoh batuan fragmental adalah tuff dan volcanic breccias.

Dalam klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russel B. Travis, tekstur batuan beku yang didasarkan pada ukuran butir mineralnya dapat dibagi menjadi :
a.       Batuan dalam
Bertekstur faneritik yang berarti mineral-mineral yang menyusun batuan tersebut dapat dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar.Terbentuk kurang lebih 3–4 km di bawah permukaan bumi, dan batuan dalam sering disebut juga batuan plutonik atau batuan abisik.Struktur kristalnya adalah holokristalin atau berhablur penuh.Contoh batuannya adalah gabbro dan granodiorit.
b.      Batuan gang
Bertekstur porfiritik dengan masa dasar faneritik atau bertekstur porfiritik dengan masa dasar afanitik.Terbentuk dalam celah-celah atau retak-retak kulit bumi, pada jalan magma menuju permukaan bumi.Batuan gang sering disebut juga batuan hypoabisik dan struktur kristalnya adalah holkristalin dan porfir atau amorf. Contoh batuannya adalah diorite porfiri dan granit porfiri.
c.         Batuan lelehan
Bertekstur afanitik, yaitu individu mineralnya tidak dapat dilihat dengan mata biasa.Terbentuk melalui pembekuan tiba-tiba ketika magma sampai ke permukaan bumi dan berubah menjadi lava yang langsung menjadi padat karena pendinginan dari lingkungan. Sedangkan batuan lelehan memiliki struktui kristal yang kecil-kecil atau bahkan tidak mempunyai bentuk Kristal (amorf). Contoh batuannya adalah batu riolit dan obsidian.
Kelebihan dari klasifikasi Russel B. Travis adalah akan lebih dapat mencerminkan sejarah pembentukan batuan daripada atas dasar kimia.
       Menurut Heinrich (1956) batuan beku dapat diklasifikasikan menjadi beberapa keluarga atau kelompok yaitu:
a.           Kelompok granit – riolit: bersifat felsik, mineral utama kuarsa, alkali felsparnya melebihi plagioklas
b.          Kelompok granodiorit – qz latit: felsik, mineral utama kuarsa, Na Plagioklas dalam komposisi yang berimbang atau lebih banyak dari K Felspar
c.           Kelompok syenit – trakhit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid tidak dominan tapi hadir, K-Felspar dominan dan melebihi Na-Plagioklas, kadang plagioklas juga tidak hadir
d.          Kelompok monzonit – latit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid hadir dalam jumlah kecil, Na-Plagioklas seimbang atau melebihi K-Felspar
e.           Kelompok syenit – fonolit foid: felsik, mineral utama felspatoid, K-Felspar melebihi plagioklas
f.           Kelompok tonalit – dasit: felsik hingga intermediet, mineral utama kuarsa dan plagioklas (asam) sedikit/tidak ada K-Felspar
g.          Kelompok diorite – andesit: intermediet, sedikit kuarsa, sedikit K-Felspar, plagioklas melimpah
h.          Kelompok gabbro – basalt: intermediet-mafik, mineral utama plagioklas (Ca), sedikit Qz dan K-felspar
i.            Kelompok gabbro – basalt foid: intermediet hingga mafik, mineral utama felspatoid (nefelin, leusit, dkk), plagioklas (Ca) bisa melimpah ataupun tidak hadir
j.            Kelompok peridotit: ultramafik, dominan mineral mafik (ol,px,hbl), plagioklas (Ca) sangat sedikit atau absen.
Pemerian dan pengenalan mineral pembentuk batuan beku tersebut secara megaskopik sudah harus dikuasai oleh praktikan, seperti diberikan pada kuliah dan praktikum kristalografi-mineralogi serta dipraktekkan lagi pada pengenalan mineral pembentuk batuan, praktikum petrologi ini. Untuk mengetahui genesa masing-masing mineral pembentuk batuan tersebut di atas, praktikan dianjurkan untuk mempelajari Reaksi Seri Bowen yang terdapat di dalam buku-buku literatur Petrologi (misal Middlemost, 1985, Magmas and magmatic rocks, Longman, Inc., London, 266 p).

4.        Pembagian Berdasarkan Cara Terjadi
Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi :
1.         Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan
2.         Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan
3.    Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi.
Oleh W. T. Huang (1962), jenis batuan deep seated disebut plutonik, sedangk batuan effusive disebut batuan vulkanik.

5.        Pembagian berdasarkan indeks warna
Pembagian berdasarkan indeks warna di bagi menjadi dua yaitu menurut S.J. Shand (1943) dan S. J. Ellis (1948), yaitu:
Klasifikasi berdasarkan indeks warna menurut S. J. Shand (1943), yaitu :
1. Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30 % mineral mafik
2. Mesococtik rock, apabila mengandung 30 %-60 % mineral mafik
3. Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60 % mineral mafik

Sedangkan menurut S. J. Ellis (1948) pembagian batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut :
1. Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10 %
2. Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10 % sampai 40 %
3. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40 % sampai 70 %
4. Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70 %

6.        Pembagian yang dipakai di laboratorium petrologi
Pembagian yang digunakan di laboratorium petrologi berdasarkan pembagian yang dikemukakan oleh Huang (1962) yaitu berdasarkan kandungan kuarsa bebas atau silika dan kemas batuan tersebut selain itu dipertimbangkan pula proporsi alkali feldspar, plagioklas dan mineral utama lainnya.
Beberapa hal yang perlu dicermati pembagian menurut Huang (1962) :
a.         Nama batuan yang tertera pada lajur, menunjukan jenis teksturnya (termasuk jenis batuan vulkanik atau plutonik)
b.         Jenis dan kelompok batuan dibatasi oleh kolom-kolom, dengan kandungan mineral tertentu
c.         Quartz diving line bagian kiri adalah batuan-batuan yang mengandung kuarsa lebih dari 10% sedangkan yang sebelaha kanan adalah batuan yang mengandung kuarsa < 10% (batuan intermediet dan basa)
d.        Orthoklas meliputi keseluruhan alkali feldspar seperti sanidin, mikrolin, anortoklas dan lainnya, sedangkan plagioklas dibedakan menjadi plagioklas asam dan basa. Plagioklas asam umumnya relatif lebih cerah dibandingkan dengan plagioklas basa, secara megaskopis sulit untuk membedakannya. Untuk membedakannya dilihat presentase kandungan mineral mafiknya
e.         Jika alkali feldspar dan kuarsanya semakin bertambah dan plagioklasnya semakin asam maka sebagian batuan beku dalam asam dinamakan granit, sedangkan batuan beku luarnya adalah riolit. Didalam batuan beku asam ini mineral mafik yang mungkin hadir dalam biotit, muskovin dan kadang-kadang amfibol. Batuan beku dalam sangat asam dimana alkali feldspar lebihbanyak daripada plagioklas adalah sienit, sedangkan pegmatit hanya tersusun oleh alkali feldspar dan kuarsa. Batuan beku yang tersusun oleh gelas saja disebut obsidian dan apabila bertekstur perlapisan disebut Perlit.
f.          Batuan beku dalam asam dinamakan diorit kuarsa atau granodiorit, sedangkan batuan beku luarnya disebut dasit. Mineral penyusunnya hampir mirip dengan diorit atau andesit, tetapi ditambahkan kuarsa dan alkali feldspar, sementara plagioklasnya secara berangsur berubah ke asam.
g.         Batuan beku dalam mafik disebut gabro, terdiri dari olivin,piroksen dan plagioklas basa. Sebagai batuan beku luar kelompok ini adalah basal. Batuan beku dalam menengah disebut diorit. Tersusun oleh piroksen, amfibol dan plagioklas menengah, sedangkan batuan beku luarnya dinamakan andesit. Antara  andesit dan basal ada nama batuan transisi yang disebut andesit basal (basaltic andesit).
h.         Dunit tersusun seluruhnya oleh mineral olivin sedangkan piroksenit oleh piroksen dan anortosit oleh plagioklas basa.peridotit terdiri dari mineral olivin dan piroksen; norit secara dominan terdiri dari piroksen dan plagioklas basa. Batuan beku luar ultramafik umumnya bertekstur gelas atau vitrofirik dan disebut pikrit.
Penamaan batuan beku sering ditambah aspek tekstur, struktur dan atau komposisi mineral yang sangat menonjol.Contoh andesit,porfiri, basal vesikuler dan andesit piroksen. Penamaan nama batuan beku berdasarkan komposisi mineral umumnya diberikan apabila presentase kehadirannya minimal 10 % perkiraan presentase kehadiran mineral pembentuk batuan.



 






 













Gambar 23. Diagram presentase untuk perkiraan komposisi berdasarkan volume

Tabel 7. Klasifikasi batuan beku (O’Dunn & Sill, 1986)
BATUAN PIROKLASTIK (PYROCLASTIC ROCKS)
Batuan piroklastik adalah suatu batuan yang berasal dari letusan gunung api, sehingga merupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau pecahan magma yang dilontarkan dari dalam bumi ke permukaan. Itulah sebabnya dinamakan sebagai piroklastik, yang berasal dari kata pyro berarti api (magma yang dihamburkan ke permukaan hampir selalu membara, berpendar atau berapi), dan clast artinya fragmen, pecahan atau klastika.

1.        Genesa
Secara genetik batuan beku piroklastik dapat dibagi menjadi empat tipe utama, yaitu:
a.         Endapan Jatuhan Piroklastik (Piroclastic Fall Deposits)
Endapan piroklastik ini dihasilkan dari erupsi eksplosif yang melemparkan material-material vulkanik ke atmosfir dan jatuh di sekitar erupsi.Bahan piroklastik setelah dilempar dari pusat vulkanik langsung jatuh ke darat melalui medium udara. Ciri yang nampak dari endapan ini adalah berlapis baik, dan pada lapisannya Akan memperlihatkan struktur butiran bersusun, dengan beberapa struktur yang pada strata sedimen, antara lain kenampakan gradasi normal pada pumis maupun lithikfragments. Contoh endapan ini adalah: Agglomerate, breksi, piroklastik, tuff dan lapili.
Jika bahan-bahan piroklastik setelah dilempar dari pusat erupsi yang berada di darat maupun di bawah permukaan laut kemudian diendapkan pada kondisi air yang tenang dan tidak mengalami reworking serta tidak tercampur dengan bahan yang bukan piroklastik, maka jenis ini tidak didapatkan struktur- struktur sedimen internal dan komposisi seluruhnya dalam bahan piroklastik. Bila dilihat paleoenvirontment, maka jenis ini termasuk batuan sedimen dengan provenance piroklastik.
b.         Endapan Aliran Piroklastik (Proclastic Flow Deposits)
Material hasil langsung dari pusat erupsi, kemudian teronggokan disuatu tempat. Endapan ini dihasilkan dari hasil gerakan material piroklastik kearah lateral berupa aliran gas atau material setengah padat berkonsentrasi tinggi diatas permukaan tanah. Proses pengendapan sepenuhnya dikontrol oleh topografi. Lembah dan depresi disekitar pusat erupsi akan terisi oleh endapan tersebut. Ciri yang dijumpai antara lain sortasi yang jelek dan jika ada perlapisan maka pada lithic fragments di jumpai gradasi normal sedangkan pada pumis dijumpai gradasi yang berlawanan (reverse granding). Hal ini disebabkan densitas yang lebih rendah daripada mediannya (aliran gas atau padatan). Endapan ini meliputi :glowing avalanche, lava collapse, hot ash avalanche. Aliran ini umumnya berlangsung pada suhu tinggi antara 500o – 600o C.
c.         Endapan Gelombang Piroklastik (Piroclastic Surge Deposits)
Piroclastic Surge Depositsadalah awan campuran dari bahan padat dan gas (uap air) yang mempunyai rapat massa rendah dan bergerak dengan kecepatan tinggi secara turbulen diatas permukaan. Endapan ini cenderung menyebar dan menyelimuti area disekitar pusat erupsi namun umumnya lebih terkonsentrasi di lembah-lembah dan daerah depresi. Struktur yang mencirikan endapan ini antara lain: perlapisan silang siur, dune, antiidune, laminasi planar, baji dan bergelombang.
d.        Lahar
Pada suhu di atas 100o C material piroklastik cenderung tertransport oleh media berfase gas.Jika media pembawa berupa air bersuhu rendah maka terbentuk semacam aliran lumpur yang disebut lahar. Istilah lahar ini berasal dari bahasa Indonesia yang kini digunakan secara internasional.
Sebagaimana halnya piroklastik, aliran lahar ini lebih terkonsentrasi dilembah, alur dan tempat lain yang bertopografi rendah. Panjang aliran lahar dapat mencapai 10-20 km, bahkan dibeberapa tempat diketahui alirannya mencapai lebih dari 300 km dari sumbernya. Ciri-ciri umum endapan lahar: tidak ada pemalihan, graded dan reversebedding, tidak ada perlapisan, sering di jumpai adanya fragmen kayu, lebih padat atau kompak dari endapan piroklastik aliran.
Cara terjadinyalahar :
1.        Terbentuk langsung dari erupsi melalui danau kepundan atau disebut lahar panas
2.        Berasal dai endapan piroklaaastik aliran panas yang kemudian bercampur dengan salju atau air menuju lereng gunung api.

2.        Struktur Batuan Piroklastik
Struktur batuan piroklastik pada prisipnya sama dengan struktur batuan sedimen klastik, juga dapat dibagi pula seperti struktur pada batuan beku, contoh: vesikuler, scoria, dan amigdaloidal.

220px-Teidepumice.jpg,Amygdaloidal-basalt1.jpg 

















Gambar 24. Menunjukan struktur (a) scoria, (b) amigdaloidal dan (c) pumisan

3.        Litologi
Aspek litologi dapat dipakai untuk batuan piroklastik. Dasar klasifikasi yang sering dipakai antara lain:
a.         Ukuran Butir
Berdasarkan ukuran butir klastikanya, sebagai bahan lepas (endapan) dan setelah menjadi batuan piroklastik, penamaannya seperti pada tabel berikut ini:






                                        Tabel 8.Klasifikasi batuan piroklastik.
Ukuran butir
Nama  butiran (klastika)
Nama batuan
Æ> 64 mm
Erupsigunung api
Blok/bongkah gunung api
Aglomerat
Breksi piroklastik
2 – 64 mm
Lapili
Batulapili
1 – 2 mm
Abu gunung api kasar (pasir kasar)
Tuff kasar
Æ< 1 mm
Abu gunung api halus
Tuff  halus

Erupsi gunungapi adalah klastika batuan gunungapi yang mempunyai struktur-struktur pendinginan yang terjadi pada saat magma dilontarkan dan membeku secara cepat di udara atau air dan di permukaan bumi. Salah satu struktur yang sangat khas adalah struktur kerak roti (bread crust structure).Erupsi ini pada umumnya mempunyai bentuk membulat, tetapi hal ini sangat tergantung dari keenceran magma pada saat dilontarkan.Semakin encer magma yang dilontarkan, maka material itu juga terpengaruh efek puntiran pada saat dilontarkan, sehingga bentuknya dapat bervariasi. Selain itu, karena adanya  pengeluaran gas dari dalam material magmatik panas tersebut serta pendinginan yang sangat cepat maka pada erupsi gunung api juga terbentuk struktur vesikuler serta tekstur gelasan dan kasar pada permukaannya. Erupsi gunung api berstruktur vesikuler di dalamnya berserat kaca dan sifatnya ringan disebut batuapung (pumice). Batuapung ini umumnya berwarna putih terang atau kekuningan, tetapi ada juga yang merah daging dan bahkan coklat sampai hitam.Batuapung umumnya dihasilkan oleh letusan besar atau kuat suatu gunung api dengan magma berkomposisi asam hingga menengah, serta relatif kental. Erupsi gunung api yang juga berstruktur vesikuler tetapi di dalamnya tidak terdapat serat kaca, bentuk lubang melingkar, elips atau seperti rumah lebah disebut skoria (scoria). Erupsi gunung api jenis ini warnanya merah, coklat sampai hitam, sifatnya lebih berat daripada batuapung dan dihasilkan oleh letusan gunung api lemah berkomposisi basa serta relatif encer. Erupsi gunung api berwarna hitam, struktur masif, sangat khas bertekstur gelasan, kilap kaca, permukaan halus, pecahan konkoidal (seperti botol pecah) dinamakan obsidian. Blok atau bongkah gunung api dapat merupakan erupsi gunung api yang bentuknya meruncing, permukaan halus gelasan sampai hipokristalin dan tidak terlihat adanya struktur-struktur pendinginan. Dengan demikian blok dapat merupakan pecahan daripada erupsi gunung api, yang hancur pada saat jatuh di permukaan tanah/batu. Erupsi dan blokgunung api yang berasal dari pendinginan magma secara langsung tersebut disebut bahan magmatik primer, material esensial atau juvenile. Blok juga dapat berasal dari pecahan batuan dinding (batuan gunung api yang telah terbentuk lebih dulu, sering disebut bahan aksesori), atau fragmen non-gunung api yang ikut terlontar pada saat letusan (bahan aksidental).
Berdasarkan komposisi penyusunnya, tuf dapat dibagi menjadi tuf gelas, tuf kristal dan tuf litik, apabila komponen yang dominan masing-masing berupa gelas/kaca, kristal dan fragmen batuan. Tuf juga dapat dibagi menjadi tuf basalt, tuf andesit, tuf dasit dan tuf riolit, sesuai klasifikasi batuan beku.Apabila klastikanya tersusun oleh fragmen batuapung atau skoria dapat juga disebut tuf batuapung atau tuf skoria.Demikian pula untuk aglomerat batuapung, aglomerat skoria, breksi batuapung, breksi skoria, batulapili batuapung dan batulapili skoria.
b.      Komposisi Fragmen piroklastik
Komponen-komponen dalam endapan piroklastik lebih mudah dikenali dari pada endapan muda, tak terlithifikasi atau sedikit terlithifikasi.Pada material piroklastik berukuran halus dan telah terlithifikasi, identifikasi komposisi sulit dilakukan.
c.       Tingkat dan tipe welding
Jika material piroklastik khususnya berbutir halus, terdeposisiskan saat masih panas, maka butiran-butiran itu seakan-akan terpateri satu sama lain. Peristiwa ini disebut welding.
Dengan demikian, pada prinsipnya batuan piroklastik adalah batuan beku luar yang bertekstur klastika. Hanya saja pada proses pengendapan, batuan piroklastik ini mengikuti hukum-hukum didalam proses pembentukan batuan sedimen. Misalnya diangkut oleh angin atau air dan membentuk struktur-struktur sedimen, sehingga kenampakan fisik secara keseluruhan batuannya seperti batuan sedimen. Pada kenyataannya, setelah menjadi batuan, tidak selalu mudah untuk menyatakan apakah batuan itu sebagai hasil kegiatan langsung dari suatu letusan gunung api (sebagai endapan primer piroklastik), atau sudah mengalami pengerjaan kembali (reworking) sehingga secara genetik dimasukkan sebagai endapan sekunder piroklastik atau endapan epiklastika.

Istilah – Istilah
1. Ash Flow (Tuff) – Fragmental Flow
a. Breksi aliran piroklastik adalah bahan piroklastik yang tersusun atas fragmen runcing-runcing hasil endapan piroklastik (Fisher, 1960)
b. Ignimbrit adalah suatu batuan yang terbentuk dari aliran abu panas (Mac Donald, 1972)
c. Welded tuff adalah endapan aliran abu panas yang terlepaskan akibat deposisi pada saat masih panas.
Gambar 25. Menunjukan contoh aliran abu panas atau welded tuff

2. Ash Fall : yaitu primari piroklastik atau bahan yang belum mengalami pergerakan dari tempat semula diendapkan oleh proses jatuhan selama belum mengalami pembatuan atau lithifikasi (Fisher, 1960).
a. Agglomerate: diartikan sebagai batuan yang terbentuk dari hasil konsolidasi material yang mengandung erupsi (tuff agglomerate merupakan batuan yag kandungan erupsi sebanding atau lebih banyak dari abu vulkanik)(Widiasmoro, 1970)
                                                       
Gambar 26. Menunjukan bentuk agglomerate

b. Aglutinete: merupakan hasil akumulasi fragmen – fragmen pipih yang terelaskan, berasal dari erupsi basaltik yang sangat encer (Tyrell, 1931)

c. Breksi piroklastik: batuan yang mengandung blok lebih dari 50% (Mac Donald, 1972 dan Fisher, 1958)
d. Tuff pyroclastic breccia: batuan yang mengandung S sebanding dengan abu vulkanik atau bisa juga lebih dominan abu vulkanik (Norton, 1917 dan Mac Donald, 1972)
Gambar 27. Menunjukan bentuk pyroclastic brecia
e. Lapilistone: batuan yang penyusun utamanya berukuran lapili yaitu 2 – 64 mm (Fisher, 1961)
f. Lapilituff ; batuan yang kandungan lapili dengan abu vulkanik sebanding atau lebih dominan abu vulkanik (Fisher, 1961 dan Mac Donald, 1972)
g. Tuff ; batuan yang tersusun dari abu vulkanik
3. Nama batuan yang tidak berkaitan dengan genesanya, misalnya breksi vulkanik adalah batuan yang terdiri dari penyusun utama fragmen vulkanik yang runcing-runcing, dengan matriks berukuran 2 mm dengan bermacam-macam komposisi dan tekstur (biasa berupa endapan piroklastik, autoklastik dan lain-lain),(Fisher, 1958).
4. Breksi vulkanik autoklastik terbentuk sebagai akibat letusan gas yang terkandung di lava atau akibat pergerakan lava yang sebelum mengalami pembatuan.
a. Breksi aliran terbentuk pada bagian tepi lava aliran akibat pemadatan pada tepi kerak dan gerakan mengalir setelah pendinginan (Fisher, 1960, Wrigth dan Brown, 1963, Mac Donald, 1972)
b. Breksi letusan akibat letusa gas, yang terkandung di lava seehingga terjadi fragmentasi pada kerak bagian luar lava yang mulai membeku
5. Breksi vulkanik aloklastik adalah breksi yang terbentuk dari hasil fragmentasi, batuan yang telah ada sebelum mengalami pekerjaan proses vulkanisme:
a. breksi intrusi: yaitu breksi yang mengandung fragmen batuan yang diterobos magma dalam matriks batuan beku (Harker, 1908 dan Bowes, 1960)

b. Explosion brecia: merupakan breksi hancuran batuan karena adanya ledakan vulkanik yang terjadi di bawah permukaan (Wrigth dan Bowes, 1960)
c. Tuffsite brecia: merupakan breksi yang tersusun atas fragmen batuan yang intrusi magma dengan tuff sebagai matriks yang mengandung bekas aliran gas di dalamnya (Wrigth dan bowes, 1960)
6. Breksi vulkanik epiklastik
a. breksi laharik merupakan breksi yang dihasilkan dari aliran lumpur pekat berupa pencampuran antara butiran vulkanik berukuran bergam dengan batuan non vulkanik (Fisher, 1960)
b. batu pasir tuffan atau konglomerat tuffan merupakan batuan sedimen epiklastik yang terngkut juga di dalamnya kompone piroklastik misalnya pumis atau shard.
c. batu pasir atau konglomerat vulkanikmerupakan batuan epiklastik yang tersusun dari fragmen-fragmen yang berupa vulkanik yang telah mengalami erosi dan pengangkutan yang kemudian diendapkan.

 



IDENTIFIKASI BATUAN BEKU
Untuk melakukan identifikasi batuan beku ada beberapa perbedaan antara identifikasi yang dilakukan pada contoh setangan dengan identifikasi singkapan dilapangan.Pada umumnya pengamatan singkapan dilapangan diikuti pengamatan contoh setangan.
Selain itu ada juga perbedaan antara identifikasi batuan beku dalam dengan batuan beku luar. Pada batuan beku luar identifikasi dititik beratkan pada struktur dan hubungan antar komponen pembentuk batuan (bahan-bahan piroklastik) sedangkan dengan identifikasi batuan beku dalam lebih dititik beratkan pada hubungan unit-unit pembentuk batuan yaitu kristal-kristal mineral.

1.        Deskripsi Contoh Setangan
Hasil determinasi contoh setangan dapat dihubungkan dengandata pengamatan singkapan untuk mendapatkan data yang lebih detail. Data-data tersebut akan saling melengkapi seperti berikut :
a.    Pengamatan kenampakan lapuk dan warna segar batuan, kekerasan mineral relatif baik yang telah mengalami pelapukan ataupun belum. Mengidentifikasi mineral yang mengalami pelapukan dari warna hasil lapukannya.
b.    Untuk contoh yang menyimpan data yang penting dapat dilakukan analisa petrografi dengan membuat sayatan yang tipis pada bagian yang segar.
c.    Mengamati warna pelapukan segar dan apabila mungkin membuat estimasi mengenai color indeks.
d.   Pengamatan butiran pada batuan contoh setangan bilabatuannya afanitik, catat tekstur lain dan dilakukan pengamatan apakah batuan tersebut felsik atau mafik.
Pengamatan yang harus dilakukan antara lain:
1.         Amati hubungan antara mineral dan batuan yang memiliki kristal kasar sampai medium.
2.         Amati dan catat hubungan fenokris dan massa dasar pada batuan yang bertekstur porfiritik.
3.         Amati dan catat derajat homogenitas, layering, laminasi, aliran, bending,lubang gas, tekstur, dan inklusi.
4.         Amati dan catat proporsi mineral-mineral yang berbeda dan deskripsi mineral seperti warna, kilap, pecahan, belahan, kekerasan, ciri khas, dan lain-lain.
5.         Gunakan hasil pengamatan untuk menentukan nama menggunakan klasifikasi tertentu, pada praktikum ini menggunakan klasifikasi Huang (1962).

2.      Petrogenesa Batuan Beku
Petrogenesa adalah bagian dari petrologi yang menjelaskan seluruh aspek terbentuknya batuan mulai dari asal-usul atau sumber, proses primer terbentuknya batuan hingga perubahan-perubahan (proses sekunder) pada batuan tersebut.Untuk batuan beku, sebagai sumbernya adalah magma.
Proses primer menjelaskan rangkaian atau urutan kejadian dari pembentukan berbagai jenis magma sampai dengan terbentuknya berbagai macam batuan beku, termasuk lokasi pembekuannya. Setelah batuan beku itu terbentuk, batuan itu kemudian terkena proses sekunder, antara lain berupa oksidasi, pelapukan, ubahan hidrotermal, penggantian mineral (replacement), dan malihan, sehingga sifat fisik maupun kimiawinya dapat berubah total dari batuan semula atau primernya.
Sejarah terbentuknya batuan beku sebagian besar berlangsung lama (dalam ukuran waktu geologi), dan  umumnya terjadi di bawah permukaan bumi, sehingga tidak dapat diamati langsung, maka analisis atau penjelasannya bersifat interpretatif. Pembuktian mungkin dapat ditunjukkan berdasar hasil-hasil eksperimen di laboratorium, sekalipun hanya pada batas-batas tertentu.Analisis interpretatif tersebut tetap didasarkan pada data obyektif atau deskriptif hasil pemerian yang meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi mineral dan kenampakan khusus lainnya.
Dengan demikian studi petrogenesa pada prinsipnya untuk mencari jawaban atau penjelasan terhadap pertanyaan “Mengapa” (Why) dan “Bagaimana” (How) terhadap data pemerian batuan.Misalnya, mengapa batuan beku luar bertekstur gelasan dan berstruktur vesikuler, sedang batuan beku dalam bertekstur kristalin dan berstruktur masif.Mengapa basal berwarna gelap sedang pegmatit berwarna cerah?Bagaimana kejadiannya olivin dapat muncul bersama kuarsa dan biotit di dalam satu batuan?Bagaimana terbentuknya andesit dari basalt dan riolit?
Berdasarkan pengetahuan teori dari kuliah mineralogi-kristalografi, kuliah petrologi dan membaca buku literatur, diharapkan praktikan dapat menjelaskan petrogenesa batuan peraga yang dijadikan bahan praktikum, berdasarkan data pemeriannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar